Sudah jamak jika orang bilang, merokok itu tidak sehat. Merokok itu jelek. Merokok itu bisa menyebabkan sakit paru-paru. Merokok itu bisa menyebabkan asma, merokok bisa menyebabkan kanker, dan masih banyak lagi dampak buruk merokok lainnya.
Itu bisa dimaklumi, karena image buruk mengonsumsi rokok di masyarakat seperti itu. Padahal, sejatinya semua justifikasi itu tak seluruhnya benar. Sebab, orang tak merokok pun, tidak ada jaminan bebas dari bermacam penyakit.
"Apa orang bisa menjamin, jika tidak merokok akan terbebas dari segala penyakit itu. Kan tidak?" bener ga gan..
bagi penggemar rokok, tidak gampang untuk meninggalkan kebiasaan satu ini. Sebab, merokok itu diibaratkan makan sayur. Tak lengkap kalau tidak diberi garam.
Nah, persoalannya sekarang, bagaimana cara mengendalikan diri agar tetap merokok tetapi masih mampu mempertahankan status tubuh sehat dan bugar memenuhi kriteria sehat WHO?
sebelumnya mari gan mengutip kriteria sehat versi WHO, disebutkan bahwa sehat adalah kesehatan fisikal, mental dan sosial secara lengkap dan tidak sekadar tiadanya penyakit atau kelemahan lain. Dengan demikian, sehat tak hanya dilihat dari fisik semata, tapi juga lingkungan sekitar.
Termasuk, dalam merokok. Tak selamanya merokok dikatakan sebagai penyebab munculnya suatu penyakit. Sebab, lingkungan sekitar juga memberikan andil yang cukup besar.
Ia mencontohkan, perokok yang mengalami sakit asma. Bisa jadi itu lantaran disebabkan karena rumahnya terlalu lembab. Sehingga membuat orang tersebut kesulitan menyerap oksigen.
"Orang sakit asma itu kalau musim dingin pasti kumat. Karena susah mengisap oksigen. Itu karena lingkungannya terlalu lembab. Jadi, belum tentu dia sakit asma karena merokok," bener ga gan??
ane tak menampik gan jika selama ini rokok dituding sebagai biang segala penyakit. Banyak yang menuding nikotin yang terkandung dalam rokok sebagai penyebab orang kecanduan, dan kandungan tar yang dianggap sebagai penyebab sakit kanker. Padahal, hal itu juga tak sepenuhnya benar.
mari gan kita mengutip ajaran Paracelsus, founder ilmu kedokteran dunia abad 16. Disebutkan bahwa di dunia ini tidak ada bahan beracun, yang ada adalah dosis yang tidak benar. Artinya, apapun kalau dikonsumsi secara berlebihan akan menjadi ’penyakit’.
Sebaliknya, jika dikonsumsi sesuai takaran, tidak menjadi masalah. Termasuk dalam merokok. Sekalipun merokok, tapi kalau tidak berlebihan, tidak masalah.
"Seperti kita makan atau minum. Kalau sesuai takaran, ya sehat-sehat saja. Tapi, kalau berlebihan, bisa dibayangkan sendiri. Kebanyakan minum bisa mlembung. Kebanyakan minum obat bisa nggliyeng. Kebanyakan makan daging bisa kolesterol, dan sebagainya. Prinsipnya, kita mengonsumsi sesuatu itu sesuai dengan takaran,"
Kembali ke soal nikotin, zat yang terkandung dalam rokok ini, sebenarnya tidak pernah betah tinggal dalam tabuh manusia. Waktu paruh atau half life time nikotin dalam tubuh manusia antara 20-40 menit.
contoh : jika orang merokok satu batang rokok filter, kadar nikotin yang terserap dalam darah sebanyak 40 pph. Dan, setelah 30 menit setelah menghisap rokok, kadar nikotin dalam darah berkurang separonya menjadi 20 pph. Setelah 30 menit lagi, tinggal 10 pph, dan seterusnya. Dalam 2-3 jam, nikotin sudah bersih dari dalam darah.
"Jadi, jika tengah malam orang merokok, keesokan harinya melakukan tes darah, bisa dipastikan akan bebas nikotin. Karena sifat nikotin itu tidak pernah betah tinggal dalam tubuh manusia,"
pengaruh nikotin dalam organ-organ tubuh manusia sering disebut paradoksikal. Pada dosis rendah dan waktu pendek bisa menstimulir organ tertentu dan berbeda terhadap organ lain.
Selain itu, dalam dosis rendah bisa membantu proses belajar dan pembelajaran, kemungkinan melalui pelepasan norepinephrine dalam otak. "Bagi perokok, nikotin juga bisa membantu berkonsentrasi dan mengatasi situasi stres,"
nikotin dalam asap rokok dikelompokkan dalam fasa partikulat bersama air dan tar. Nikotin dimetabolisir dalam liver (detoxifikasi), paru dan sebagian oleh ginjal. Sedangkan organ yang tidak memetabolisir nikotin antara lain otak, lambung, usus kecil, diafragma dan limpa (spleen).
dan juga nikotin meninggalkan tubuh melalui keringat, dan air liur perokok. "Yang paling penting, nikotin dibuang lewat air kencing,"
satu lagi gan..perokok di anjurkan mengkonsumsi air putih minimal 12 gelas sehari
Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6059611
Tidak ada komentar:
Posting Komentar